TUGAS
SOFTSKILL
ARTIKEL:
PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN

Disusun Oleh :
Kelompok : VIII (Delapan)
Nama / NPM : Diki
Alnastain / 32411082
Febri Ramadani / 38411417
Ichsan Saputro / 33411449
Kelas : 3ID05
Mata Kuliah : Pengetahuan Lingkungan
Dosen : Dian Kemala Putri
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2014
ARTIKEL
“PERTUMBUHAN
PENDUDUK DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN”
Seiring
dengan perkembangan zaman, penduduk di seluruh dunia mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Termasuk penduduk di Indonesia. Sebagai manusia, memiliki
keturunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi kita. Namun,
tanpa kita sadari memiliki keturunan dalam jumlah tidak terkendali, dapat
menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan eksistensi bagi manusia itu sendiri
dalam mencapai kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.
Melihat
perannya, penduduk suatu negara dapat berperan sebagai objek dan subjek
pembangunan. Sebagai objek, artinya penduduk merupakan faktor yang harus
dibangun atau ditingkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan sebagai subjek penduduk
merupakan faktor pelaku proses pembangunan. Di lihat dari sisi yang lain,
penduduk merupakan beban sekaligus potensi bagi suatu negara. Apabila suatu
negara pertumbuhan penduduknya sangat tinggi, ini merupakan masalah. Hal ini
dikarenakan kapasitas wilayah suatu Negara terbatas.
Indonesia
merupakan negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk cukup padat. Tidak
bisa di pungkiri bahwa laju pertumbuhan
penduduk Indonesia begitu pesat dan tidak bisa di hindari, meskipun
pemerintah telah melakukan upaya dan berbagai solusi serta berbagai semboyan
telah di tawarkan kepada masyarakat namun tetap saja laju pertumbuhan penduduk
tidak bisa terbantahkan. Meskipun solusi yang di tawarkan tidak sesuai dengan
harapan pemerintah, tapi setidaknya bisa mereduksi sebagian masalah yang ada. Penduduk
merupakan unsur penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan
mengembangkan kegiatan ekonomi.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia sulit
untuk dihindari, di antaranya:
1. peningkatan
angka kelahiran,
2. umur
panjang,
3. penurunan
angka kematian,
4. kurangnya
pendidikan, pengaruh budaya,
5. imigrasi
dan emigrasi.
Dari segi ekonomi,
pertumbuhan penduduk yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan lapangan
pekerjaan yang luas maka hal ini akan menimbulkan pengangguran di mana-mana dan
kemiskinan pun tercipta. Ini tentu saja akan mempengaruhi proses kehidupan di
bidang lainnya. Kebutuhan ekonomi yang tidak memadai juga dapat berpengaruh
pada tingkat pendidikan dan kesehatan seseorang. Bagaimana mau memperoleh
pendidikan dan kesehatan yang layak, jika untuk kebutuhan hidup sehari-haripun
mereka susah mendapatkannya. Tak hanya berhenti di situ saja, tingkat
kriminalitas pun akan meningkat. Orang dalam kondisi lapar akan berbuat apa
saja yang penting kebutuhannya bisa terpenuhi. Ujung dari pertumbuhan penduduk
yang tinggi itu adalah menimbulkan kerusakan lingkungan dengan segala dampak
yang menyertainya seperti menurunnya kualitas pemukiman dan lahan yang
ditelantarkan. Intinya, pertumbuhan penduduk yang tinggi berpotensi menimbulkan
kemiskinan dan menurunnya kesejahteraan rakyat, sampai menurunnya kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat menghambat perkembangan negara
Indonesia.
Sementara
itu jumlah penduduik indonesia disetiap provinsi menurut Badan Pusat Statistik
Laju pertumbuhan penduduk di gambarkan pada tabel dibawah ini.


Menurut
Badan Pusat Statistik jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang menghuni
Pulau Jawa termasuk Madura, jumlah penduduk terbanyak adalah propinsi Jawa
Barat sebanyak 43,02 juta, diikuti kemudian oleh Jawa Timut 37,48 juta, Jawa
Tengah 32,38 juta, Banten 10,64 juta, DKI Jakarta 9,59 juta dan DIY sebanyak
3,46 juta orang. Namun demikian angka laju pertumbuhan penduduk periode
2000-2010 ini yang tertinggi justru dicatat oleh Papua yaitu 5,39% dan terendah
propinsi Jawa Tengah sebesar 0,37%.

Gambar 1. Pertumbuhan Penduduk Indonesia. Suasana gedung perkantoran dan pemukiman padat penduduk di Jakarta

Gambar 2. Pemukiman padat penduduk terlihat di
beberapa lokasi
di Kota Semarang salah satunya di Pleburan

Gambar 3. Kepadatan penduduk yang mengakibatkan
kemacetan
di Ibu Kota
Perkembangan lingkungan
permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan
penduduk baik karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses
urbanisasi. Banyaknya pendatang dari luar kota yang jumlahnya banyak mendorong
laju pertumbuhan penduduk sehingga meningkatkan pemukiman padat penduduk.
Pemukiman
merupakan bagian dari lingkungan hidup yang digunakan sebagai tempat
tinggal dari sekelompok manusia yang saling
berinter - aksi serta berhubungan setiap hari dalam rangka untuk mewujudkan
masyarakat yang tenteram, aman dan damai. Permukiman adalah bagian dari
lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik yang berupa kawasan perkotaan
maupun pedesaan yang berfungsi sebagai hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung peri kehidupan dan penghidupan.
Pemukiman
adalah suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat
berlindung, termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan,
perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rokhani serta keadaan
sosialnya, baik untuk keluarga maupun individu.
Pemukiman
atau perumahan sangat berhubungan dengan kondisi ekonomi sosial, pendidikan,
tradisi atau kebiasaan, suku, geografi dan kondisi lokal. Selain itu lingkungan
perumahan atau pemukiman dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan
kualitas lingkungan perumahan tersebut antara lain fasilitas pelayanan,
perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatan fisik,
kesehatan mental, kesehatan sosial bagi individu dan keluarganya.
Ciri-ciri permukiman kumuh
yang tampak pada citra adalah mempunyai pola tidak teratur, rapat tidak ada
jarak antar rumah, sebagian besar rumah beratapkan asbes atau seng dan sebagian
kecil beratapkan genteng. Pada citra tersebut, atap asbes terlihat sebagai
warna putih, sedangkan rumah yang beratapkan genteng terlihat berwarna oranye.
Hubungan
Pemukiman dan Kesehatan
Kondisi-
kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi atau kebiasaan, suku, geografi
dan kondisi lokal sangat terkait dengan pemukiman atau perumahan. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi atau yang dapat menentukan kualitas lingkungan
perumahan atau pemukiman
antara lain fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat
menunjang terselenggaranya keadaan fisik, kesehatan mental, kesejahteraan
sosial bagi individu dan keluarganya (dr. H. Haryoto Kusnoputranto, SKM). Penyehatan
lingkungan tempat pemukiman adalah segala upaya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan tempat pemukiman beserta lingkungannya dan pengaruhnya
terhadap manusia.
Tujuan
dilaksanakan Kesehatan Lingkungan di Tempat Permukiman
Tujuan yang dilakukan
pada kesehatan lingkungan memiliki beberapa macam. Berikut ciri-cirnya:
1.
Penataan dan pemukiman yang memenuhi syarat
kesehatan.
Pemukiman sehat adalah suatu tempat untuk tinggal secara permanen,
berfungsi sebagai tempat untuk bermukim, beristirahat, berrekreasi dan sebagai
tempat berlindung dari pengaruh lingkungan yang memenuhi persyaratan
fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan kecelakaan. Satuan
Lingkungan Permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran
dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang teratur.
2.
Terwujudnya suatu kondisi
perumahan yang layak huni dalam lingkungan yang sehat.
Ini artinya bahwa rumah di perumahan itu harus sehat, rumah yang
dapat menjadi tempat berlindung / bernaung dan beristirahat sehingga
menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani maupun sosial. Kondisi
perumahan yang layak huni artinya harus layak sebagai tempat hunian yag
dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Prasarana lingkungan adalah
kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman
dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sarana lingkungan adalah fasilitas
penunjang berfungsi untuk penyelenggaraan dan
pengembangan kehidupan ekonomi, social dan budaya.
3.
Mengurangi resiko
kebakaran, kecelakaan, penularan penyakit.
Dalam mengurngi resiko kebakaran, kecelakaan, penularan penyakit diperlukan
sara dan utilitas. Utilitas umum merupakan bangunan bangunan yang dibutuhkan
dalam sistem pelayanan lingkungan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah
atau swasta, Utilitas yang dimaksud adalah penyediaan yang menyangkut jaringan
air bersih, listrik, pembuangan sampah, telepon dan gas .
BPLHD Ibu Kota Jakarta, Jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2012 berdasarkan proyeksi penduduk sebanyak
9.932.063 jiwa, dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2011sebanyak
9.761.992 jiwa, telah terjadi peningkatan sebesar 170.071 jiwa atau naik
sebesar 1,74 persen. Perkembangan jumlah penduduk DKI Jakarta
selama empat dasawarsa (1961-1990) jumlah penduduk tumbuh dengan pesat dari 2,9 juta jiwa pada tahun
1961 menjadi 4,6 juta jiwa pada tahun 1971, atau laju pertumbuhan penduduk per
tahun nya sebesar 4,62 persen. Sepuluh tahun berikutnya, jumlah penduduk
bertambah lagi menjadi 6,5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 4,01 persen per
tahun. Tahun 1990, penduduk DKI Jakarta naik sekitar 1,7 juta jiwa, sehingga
jumlah penduduk menjadi 8,3 juta jiwa. Selama periode 1980-1990 laju
pertumbuhan penduduk sebesar 2,42 persen per tahun. Laju pertumbuhan pada
periode ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sepuluh tahun
sebelumnya. Pada kurun waktu 1990-2000, pertambahan penduduk DKI Jakarta dapat
dikendalikan sehingga kenaikannya hanya sekitar 0,16 persen. Pada periode
2000-2010, laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan menjadi 1,43
persen per tahun, sedangkan pada tahun 2010-2012 menjadi 1,67 persen.
Jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak9.932.063juta pada tahun 2012 tersebut merupakan jumlah penduduk “malam
hari”.Keunikan jumlah penduduk DKI Jakarta adalah adanya perbedaan jumlah
penduduk pada malam hari dibandingkan dengan siang hari. Pada siang hari di
perkirakan mencapai sekitar 10,7 juta jiwa. Kondisi
ini di pengaruhi oleh penglaju (commuter) yaitu penduduk yang tinggal di
luar Wilayah DKI Jakarta tetapi melakukan aktivitas pada siang hari seperti
bekerja dan bersekolah di Wilayah DKI Jakarta.
Jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus meningkat ini perlu dicermati
karena dapat menimbulkan permasalahan di berbagai bidang. Masalah yang
berkaitan erat dengan jumlah penduduk yang tinggi antara lain masalah
permukiman, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ketenagakerjaan serta sanitasi lingkungan, dan salah satu masalah
yang muncul dan perlu di waspadai oleh Pemda DKI Jakarta adalah munculnya
permukiman-permukiman kumuh (slum area) di beberapa wilayah DKI Jakarta.

Gambar 4. Pemukiman padat
penduduk di pinggir kali yang
terlihat sangat kumuh

Gambar 5. Pemukiman padat
penduduk di pinggiran rel kereta

Gambar 6. Pemukiman
dipinggiran Kali Cipinang yang dipenuhi sampah rumah
tangga di kawasan
pemukiman Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur
OPINI:
Permasalahan diatas menjadi
tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan pertumbuhan penduduk yang tinggi
ini sebagai suatu hal yang positif atau negatif bagi bangsa dan negara
Indonesia ke depannya. Jika ingin menekan pesatnya pertumbuhan penduduk, maka kita
dapat melakukan hal-hal, yang di antaranya: menggalakkan program Keluarga
Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan
massal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran, menunda masa
perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi, dan
sebagainya. Selain itu, kita dapat mengimbangi pertambahan penduduk dengan
cara: penambahan dan penciptaan lapangan kerja, meningkatkan kesadaran dan
pendidikan kependudukan, mengurangi kepadatan penduduk dengan program
transmigrasi, meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan, serta
cara-cara lainnya.
Perkembangan lingkungan
permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan
penduduk baik karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses
urbanisasi. Pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan di daerah perkotaan
menyebabkan semakin berkembangnya rumah petak kecil yang diperjualbelikan dan
disewakan kepada para pendatang. Rumah-rumah petak kecil tersebut kemudian
berkembang menjadi kawasan padat dan kumuh yang disebut dengan kawasan kumuh
(slum area).
Untuk mewujudkan sebuah
pemukiman impian, bukan hanya menunggu kepedulian pemerintah setempat yang
selalu menunggu musibah datang baru bertindak. Namun yang dibutuhkan adalah
kepedulian masyarakat yang cerdas dalam menjaga kesehatan lingkungan
masing-masing. Kebersihan dan kreativitas masyarakat menjadi faktor utama dalam
mewujudkan kesehatan lingkungan pemukiman yang bersih, dan nyaman. Mengatasi
masalah kesehatan lingkungan pemukiman sangatlah tidak sulit. Jika kita mau
mengatasinya bersama-sama, hal-hal negatif yang diakibatkan oleh perilaku kita
dapat kita hindari sehingga terciptalah kesehatan lingkungan pemukiman. Agar
tercipta lingkungan yang sehat maka dibutuhkan syarat-syarat seperti
1.
Sistem drainase lingkungan yang baik: kawasan permukiman perkotaan, terutama
permukiman yang padat, biasanya tidak memiliki sistem saluran air yang baik.
Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus segera membuat secara gotong
royong, baik dana maupun tenaga untuk membuat sistem drainase.
2.
Pepohonan rindang di setiap rumah, Manfaat pohon
sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan lingkungan pemukiman, selain dapat
menyerap racun karbondioksida yang berbahaya bagi kesehatan, pohon pun bisa
menambah suasana asri.
3.
Sanitasi dan sumur resapan, sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting
dari sebuah kesehatan lingkungan pemukiman yang layak huni. Dengan sistem
sanitasi yang bersih, masyarakat akan lebih tenang dan nyaman dalam melakukan
aktivitasnya. Sumur resapan memiliki fungsi unutk menjaga kualitas air tanah
dan mencegah terjadinya banjir, dan untuk mengalirkan air hujan agar tidak
menjadi genangan.
4.
Tempat pembuangan sampah, semakin padatnya penduduk, semakin banyaknya sampah
yang bertumpuk. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk
membuang sampah pada tempatnya. Setiap rumah diwajibkan mempunyai dua macam
tong sampah, satu unutk sampah organik dan satu untuk sampah nonorganik.
5.
Bangunan rumah dengan ventilasi yang baik, ciri rumah sehat adalah rumah yang
memiliki ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara berjalan dengan lancar.
Jendela rumah minimal harus dibuka sehari sekali agar udara lembap dirumah dapat
diputar dengan udara diluar rumah. Inilah yang turut memengaruhi kesehatan
lingkungan pemukiman.
Referensi:
http://bplhd.jakarta.go.id/slhd2012/Docs/Lap_SLHD/Lap_3B.html.
www.wartawarga.gunadarma.ac.id
www.library.gunadarma.ac.id
www.wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar