MANUSIA
DAN KEINDAHAN
A. KEINDAHAN
Keindahan berasal dari kata indah yang berarti
bagus, cantik, elok dan molek.Keindahan identik dengan kebenaran segala yang
indah itu selalu mengandung kebenaran. Walaupun kelihatanya indah tapi tidak
mengandung kebenaran maka hal itu pada prinsipnya tidak indah. Keindahan yang
bersifat universal, yaitu keindahan yang tak terikat oleh selera perorangan,
waktu, tempat atau daerah tertentu, Ia bersifat menyeluruh.
Segala sesuatu yang yang mempunyai sifat indah antara
lain segala hasil seni, pemandangan alam, manusia dengan segala anggota
tubuhnya dan lain sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
Dalam bahasa Latin, keindahan diterjemahkan dari
kata “belum”Akar
katanya adalam “benum” yang berarti kebaikan. Dalam bahasa Inggris menjadi
kata “beatiful”,
Prancis “beao” sedangkan Italy dan Spanyol ”beloo”. Akar katanya
adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk
pengecilan menjadi’ ”bonellum” dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis “bellum”.
Pengertian keindahan menurut para ahli :
1.
Menurut Leo Tolstoy (Rusia)
Dalam bahasa Rusia keindahan diistilahkan dengan
kata “krasota”
yang berarti suatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat dengan
mata. Bangsa Rusia tidak mempunyai pengertian keindahan untuk musik.
2.
Menurut Alexander Baumgarten (Jerman)
Keindahan itu dipandang sebagai keseluruhan yang
merupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian yang bagian-bagian itu
erat hubungannya satu dengan yang lain juga dengan keseluruhan.
3.
Menurut Sulzer
Yang indah itu hanyalah yang baik. Jika belum baik,
ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi
ciptaan moral adalah tidak indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk
moral.
4.
Menurut Winchelman
Keindahan itu dapat terlepas sama sekali daripada
kebaikan.
5.
Menurut Shaftesbury (Jerman)
Yang indah itu adalah yang memiliki proporsi yang
harmonis, karena itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan.
6.
Menurut Humo (Inggris)
Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan
rasa senang.
7.
Menurut Hemsterhuis (Belanda)
Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan
rasa senang dalam waktu sesingkat-singkatnya.
8.
Menurut Emmanuel Kant
Keindahan terdiri dari 2 segi, yaitu subjektif dan
objektif.
9.
Menurut al – Ghazzali
Hal yang paling indah ialah yang mempunya semua
sifat-sifat perfeksi yang khas bagi karangan atau tulisan, seperti keharmonisan
huruf-huruf, hubungan arti yang tepat satu sama lainnya, pelanjutan dan spasi
yang tepat dan susunan yang menyenangkan.
10.
Menurut Herbert Read
keindahan itu dipandang sebagai gejala-gejala yang
tidak tetap sifatnya.
Selain itu menurut luasnya keindahan dibedakan menjadi
3 pengertian:
1. Keindahan
dalam arti luas.
Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan.bahwa
keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato
menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles
merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
Jadi
pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi :
• keindahan seni
• keindahan alam
• keindahan moral
• keindahan intelektual
2. Keindahan
dalam arti estetik murni.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut
pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang
diserapnya.
3. Keindahan
dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti
yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda - benda yang dapat
-diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan
tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk,
nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu
kumpulan hubungan -hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda
itu dengan si pengamat.
B. NILAI
ESTETIK
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie
menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai
seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya.
Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian
keindahan disebut nilai estetik. Dalam ”Dictionary of Sociology and Related
Science” diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
”The
believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any
object which causes it be of interest to an individual or a group”
(Kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan
manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu
kelompok).
Hal itu berarti, bahwa nilai adalah semata-mata
adalah realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan,
karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai
itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak
kebenarannya.
Nilai itu ada yang membedakan antara nilai subyektif
dan obyektif.
- Nilai ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda
sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (“instrumental! Contributory value”), yakni nilai yang bersifat
sebagai alat atau membantu contohnya :Puisi, bentuk puisi yang terdiri dari
bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
- Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang
bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu
sendiri. Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui
(alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik
C.
KONTEMPLASI DAN EKSTANSI
Keindahan dapat dinikmati menurut selera seni dan
selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor
kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi
adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam din manusia
untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kedua
dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi
penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik
perhatian orang yang melihat, mendengar. Bentuk diluar diri manusia itu berupa
karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni taii, seni sastra, seni
drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga
wama-wami, dan lain-lain. Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan
dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan
keindahan, sedangkan ekstansi itu merupakan faktor pendorong utuk merasakan,
menikmati keindahan. Karena drajad kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda
antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga
berbeda-beda. Mungkin orang yang satu mengatakan karya seni itu indah, tetapi
orang lain mengatakan karya seni itu tidak/kurang indah. karena selera seni
berlainan.
Berikut ini akan dicoba menguraikan alasan/motivasi
dan tujuan seniman menciptakan keindahan.
1) Tata nilai
yang telah usang Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak
sesuai lagi dengan keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan
dan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya kawin paksa, pingitan,
derajat wanita lebih rendah dari derajat laki-laki. Tata nilai semacam ini
dipandang sebagai mengurangi nilai moral kehidupan masyarakat, sehingga
dikatakan tidak indah. Yang tidak indah harus disingkirkan dan digantikan
dengan yang indah. Yang indah ialah tata nilai yang menghargai dan mengangkat
martabat manusia, misalnya wanita. Hal ini menjadi terra para sastrawan zaman
Balai Pustaka, dengan tujuan untuk merubah keadaan dan memperbaiki nasib kaum
wanita. Sebagai contoh novel yang menggambarkan keadaan ini ialah “layar
terkembang” oleh Sutan Takdir Alisyahbana, “Siti Nurbaya” oleh Marah Rush.
Sebagai contoh ialah karya seni berupa sanjak yang dikemukakan oleh W.S.Rendra
bcrjudul “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”. Di sini pengarang memprotes
perbuatan bejad para pejabat, yang merendahkan derajad wanita dengan mengatakan
sebagai inspirasi revolusi, tetapi tidak lebih dari pclacur. Sajaknya sebagai
berikut : – Pelacur-pelacur kota Jakarta dari Was tinggi dan Was rendah telah
diganyang tclah diburu-buru mereka kecut keder terhina dan tersipu-sipu
sesalkan mana yang mesti kau sesalkan tapi jangan kau kelewat putus asa dan kau
relakan dirimu dibikin korban wahai pelacur-pelacur kota Jakarta sekarang bangkitlah
sanggul kembali rambutmu karena setelah menyesal datanglah kini giliranmu bukan
untuk membela diri melulu tapi untuk lancarkan serangan karena sesalkan mana
yang mesti kau sesalkan tapi jangan kau rela dibikin korban Sarinah katakan
kepada mereka bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri bagaimana ia bicara
panjang lebar kepadamu tentang perjuangan nusa bangsa dan tiba-tiba tanpa ujung
pangkal ia sebut kau inspirasi revolusi sambil ia buka kutangmu dan kau, Dasima
kabarkan kepada rakyat bagaimana pars pemimpin revolusi bicara tentang
kemakmuran dan api revolusi sambil celananya basah dan tubuhnya lemas terkapar
di “sampingmu ototnya keburu tak berdaya politisi dan pegawai tinggi adalah
culak yang rapi kongres-kongres dan konperensi tak pemah berjalan tanpa kalian
kalian tak pemah bisa bilang “tidak” lantaran kelaparan yang menakutkan
kemiskinan yang mengekang dan telah lama sia-sia dapat kerja ijazah sekolah tanpa
guna pers kepala jawaban akan membuka kesempatan kalau kau membuka paha sedang
diluar pemerintahan perusahaan-perusahaan macet lapangan kerja tak ada revolusi
pers pemimpin adalah revolusi dewa-dewa mereka berjuang untuk sorga dan tidak
untuk bumi revolusi dewa-dewa tak pemah menghasilkan lebih banyak lapangan
kerja bagi rakyatnya kalian adalah sebagain kaum penganggur yang mereka
ciptakan namun sesalkan mana yang mesti kau sesalkan tapi jangan klewat putus
asa dan kau rela dibikin korban pelacur-pelacur kota Jakarta berhentilah
tersipu-sipu ketika kubaca dikoran bagaimana badut-badut mengganyang kalian
menuduh kalian sumber bencana negara aku jadi murka kalian adalah temanku ml
tidak bisa dibiarkan astaga mulut-mulut badut mulut-mulut yang latah bahkan sex
mereka berpolitikkan saudari-saudariku membubarkan kalian tidak semudah
membubarkan partai politik mereka harus beri kalian kerja mereka hams pulihkan
derajat kalian mereka hares ikut memikul kesalahan saudari-saudariku ambillah
galah kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya araklah keliling kota sebagai
panji-panji yang telah mereka nodai kini giiiranmu menuntut katakanlah kepada
mereka menganjuikan mengganyang pelacur adalah omong kosong pelacur-pelacur
kota Jakarta saudari-saudariku jangan melulu keder pada lelaki dengan mudah
kalian bisa telanjangi kaum palsu naikkan tarifmu dua kali dan meieka akan
kelabakan mogoklah satu bulan dan mereka akan puyeng lalu mereka akan jina
dengan istri sudaranya.
2) penderitaan manusia Banyak faktor yang membuat
manusia itu menderita.
3) Keagungan Tuhan Keagungan Tuhan dapat dibuktikan
melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian
alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya
dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu. Seindah-indah titipan terhadap
ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri.
Kecantikan seorang wanita ciptaan Tuhan membuat kagum seniman Leonardo da
Vinci. Karena itu is berusaha meniru ciptaan Tuhan dengan melukis Monalisa
sebagai wanita cantik. Lukisan monalisa sangat terkenal karena menarik dan
tidak membosankan.
D. KEINDAHAN
MENURUT PANDANGAN ROMANTIK
Dalam buku AN Essay on Man (1954), Ems Cassirer
mengatakan bahwa arti keindahan tidak bisa pemah selesai diperdebatkan.
Meskipun demikian, kita dapat menggunakan kata-kata penyair romantik John Keats
(1795-1821) sebagai pegangan. Dalam Endymion dia berkata : A thing of beuty is
a joy forever its loveliness iscreases; it wil never pass into nothingness Dia
mengatakan, bahwa sesuatu yang indah adalah keriangan selama lamanya,
kemolekannya bertambah, dan tidak pemah berlalu ke ketiadaan. Dari sini kita
mengetahui bahwa keindahan hanyalah sebuah konsep yang akan berkomunikasi
setelah mempunyai bentuk. Karena itu dia tidak berbicara langsung mengenai
keindahan,. akan tetapi sesuatu yang indah. Dalam sajak di atas, Keats
mengambil bahannya dari Endymion yang teniapat dalam mitologi Yunani kuno.
Endymion dalam mitologi itu sendiri mempakan penjabaran dari konsep keindahan
pada jaman Yunani kuno. Menurut mitologi Yunani ini, Endymion adalah seorang
gembala yang oleh pers dewa diberi keindahan abadi. Dia selalu muda, selamanya
tidur, dan tidak pemah diganggu oleh siapapun. Menurut Keats, orang yang
mempunyai konsep keindahan hanya tertentu jurnlahnya.
Menulislah ia, bahwa didunia ini “beauty cannot keep
her lustors eyes”, yaitu keindahan tidak dapat menyembunyikan mata yang
bersinar-sinar. Ada persamaan hakiki antara J.Keats dan Coleridge dalarn
menanggapi hal-hal sesaat. Bagi mereka hal-hal sesaat adalah pelatuk yang
meledakkan imajinasi dan imajinasi ini langsung membentuk keindahan.
E. PERASAAN
KEINDAHAN (SENSIBILITAS ESTETIS)
Manusia adalah makhluk berpikir atau homosapiens.
Selain itu manusia juga merasa dan mengindra. Melalui panca indra manusia dapat
merasakan sesuatu. Apabila manusia merasakan sesuatu itu menyenangkan dan
menggembirakan maka akan timbul perasaan puas. Tiap-tiap orang memiliki
perasaan keindahan (kepekaan keindahan), yaitu kemampuan terpesona, tergerak
oleh ciptaan yang indah, tidak acuh tak acuh, tetapi mengambil sikap (senang
atau tidak senang).
Perasaan keindahan manusia itu tetap dari zaman ke zaman,antara
manusia yang satu dengan manusia yang lain, baik pada orang primitif, modern,
desa, kota, pria maupun wanita. Namun kualitasnya yang berbeda, disebabkan oleh
lingkungan atau kebudayaan yang berbeda-beda itu. Watak perasaan keindahan
(sensibilitas estetis) ini statis. Jadi dalam diri manusia terdapat dua unsur
yaitu unsur statis dan dinamis
F. ESTETIKA
(TEORI TENTANG KEINDAHAN)
Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan dari
pengertian estetika yang berarti “teori tentang ilmu pengindraan”, yang sesuai
dengan pengertian etimologisnya.
Baumgarten (1735) yang sebagai filosof pertama
memperlakukan estetika sebagai suatu bidang studi yang khusus. Beliau
mengkhususkan penggunaan istilah “estetika” untuk teori tentang keindahan
artistik, karena ia berpendapat seni sebagai perseptif perasaan yang khusus.
Aristoteles menggunakan istilah “puitik” dan
“retorik” untuk teori keindahan artistik, yang dijadikan bagian khusus dari
estetika oleh Baumgarten.
B. RENUNGAN
Renungan berasal dari kata renung, artinya diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah
hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori.
Teori-teori itu ialah : teori pengungkapan, teori
metafisik dan teori psikologik :
1. TEORI
PENGUNGKAPAN :
Dalil dari teori ini ialah bahwa
“Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari
perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh
seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang
paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya
yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of
Expresion and General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is
expression of impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan)
Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan
intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang
menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu
berwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan
kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa
perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain
adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan. Seorang tokoh lainnya dari teori
pengungkapan adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan seni adalah
memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya
dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis,
wama, suar dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata mernindahkan perasaan
itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama.
2. TEORI
METAFISIK :
Teori semi yang bercorak metafisis
merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang
karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi
keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori
peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang
mendalilkan adanya dunia ide pads taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi.
Pada taraf yang lebih rendah *erdapat realita duniawi ini yang merupakan
cerminan semu dan mirip realita ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia
hanyalah merupakan mimemis (timan) dari realita duniawi Sebagai contoh Plato
mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi, ash dan indah sempuma ciptaan Tuhan.
Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat ranjang dari kayu yang merupakan
ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan akhimya seniman meniru ranjang kayu itu
dengan menggambarkannya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan
dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat
menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara
Republik yang ideal menurut Plato. Dalarn jaman modem suatu teori seni lainnya
yang juga bercorak metafisis dikemukakan oleh filsuf Arthur Schopenhauer
(1788-1860). Menurut beliau seni adalah suatu bentuk dan pernahaman terhadap
realita. Dan realita yang sejati adalah suatu keinginan (will) yang sementara.
Dunia obyektif sebagai ide hanyalah wujud luar dari keinginan itu. Selanjutnya
ide-ide itu mempunyai perwujudan sebagai benda-benda khusus. Pengetahuan
sehari-hari adalah pengetahuan praktis yang berhubungan dengan benda-benda itu.
Tapi ada pengetahuan yang lebih tinggi kedudukannya, yakni yang diperoleh
bilamana pikiran diarahkan kepada ide-ide dan merenungkannya demi ide-ide itu
sendin. Dengan melalui perenungan semacam ini lahirlah karya seni. Seniman
besar adalah seseorang yang mampu dengan perenungannya itu menembus segi-segi
praktis dari benda-benda disekelilingnya dan sampai pada maknanya yang dalam,
yakni memahami ide-ide dibaliknya.
3. TEORI
PSIKOLOGIS :
Teori-teori metafisis dari para
filsafat yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang
ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau
abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah
teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya
dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasaikan
psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan
keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya
itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari
keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori
peimainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert
Spencer (1820-1903). Menurut Schiller, asal mula seni adalah dorongan batin
untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam din seseorang. Seni merupakan
semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan
dengan adanya kelebihan energi yang hares dikeluarkan. Bagi Spencer, permainan
itu berperanan untuk mencegah kemampuan-kemampuan mental manusia menganggur dan
kemudian menciut kaitna disia-siakan. Seseorang yang semakin meningkat taraf
kehidupannya tidak memakai habis energinya untuk keperluan sehari-hari,
kelebihan tenaga itu lalu menciptakan kebutuhan dan kesempatan untuk melakukan
rangkaian permainan yang imaginatif dan kegiatan yang akhimya menghasilkan
karya seni. Teori pennainan tentang seni tidak sepenuhnya diterima oleh pars
ahli esteiik. Keberatan pokok yang dapat diajukan ialah bahwa permainan
merupakan suatu kreasi, padahal seni adalah kegiatan yang serius dan pada
dasamya kreatif. Sebuah teroi lagi yang dapat dimasukkan dalam teori psikologis
ialah teori penandaan (signification Theory) yang memandang seni sebagi suatu
lambang atau tanda dari perasaan manusia. Simbol atau tanda yang menyerupai
atau mirip dengan benda yang dilambangkan disebut iconic sign (tanda serupa),
misalnya tanda lalu lintas yang memperingatkan jalan yang berbelok-belok dengan
semacam huruf Z adalah suatu tanda yang serupa atau mirip dengan keadaan jalan
yang dilalui. Menurut teori penandaan itu karya seni adalah iconic signs dari
proses psikologis yang berlangsung dalam diri manusia, khususnya tanda-tanda
dari perasaannya. Sebagai contoh sebuah lagu dengan irama naik turun dan alunan
cepat lambat serta akhimya berhenti adalah simbol atau tanda dan kehidupan
manusia dengan pelbagai perasaannya yang ada pasang atau surut serta
tergesa-gesa atau santainya dan ada akhimya.
C. KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata
dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan
sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Dalam
pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian hams dipadukan wamanya bagian
atas dengan bagian. bawah. Atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara
memadu itu kurang cocok, maka akan merusak pemandangan. Sebaliknya, bila serasi
benar akan membuat orang puas karenanya. Atau orang yang berkulit hitam kurang
pantas bila memakau baju wama hijau, karena wama itu justru menggelapkan
kulitnya. Pertentanganpun menghasilkan keserasian. Misalnya dalam dunia musik,
pada hakekatnya irama yang mengalun itu merupakan pertentangan suara tinggi
rendah, panjang pendek, dan keras lembut. Karena itu dalam keindahan ini,
sebagian ahli pikir menjelaskan, bahwa keindahan pada dasamya adalah sejumlah
kualitas / pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualita yang paling
sering disebut adalah kesatuan (unity).
keselarasan (harmony), kesetangkupan (symetry), keseimbangan (balance), dan
keterbalikan (contrast). Selanjutnua dalam hal keindahan itu dikatakan
tersusun dari berbagai keselarasan dan keterbalikan dari garis, wama, bentuk,
nada dan kata-kata. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah
suatu kumpulan hubungan yang serasi dalam suatu benda dan diantara benda itu
dengan si pengamat. Filsuf Ingris Herbert Read merumuskan definisi, bahwa
keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat di antara
pencerapan-pencerapan inderawi kita (beauti is unity of formal relations among
our sence-perception). Pendapat lain menganggap pengalaman estetik suatu
keselarasan dinamik dari perenungan yang menyenangkan.
Sumber : http://reza.faturahman.wordpress.com/2011/02/03manusia
dan keindahan
Kamus besar bahasa indonesia.org
Id.wikipedia.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar